Ketika Supercar Lahir dari Bengkel Desa
Di sebuah bengkel sederhana berukuran sekitar 7 x 9 meter di Dusun Nogosari, Desa Bandung, Kecamatan Playen, Gunungkidul, sebuah mimpi besar sedang dirakit perlahan. Bukan sekadar mobil modifikasi biasa, melainkan replika Lamborghini Aventador SVJ, salah satu supercar paling ikonik di dunia.
Di balik proyek ambisius ini berdiri Suharyanto (46), pemilik sekaligus otak kreatif bengkel High Class Auto Custom. Dengan teliti, ia memeriksa satu per satu komponen, mulai dari panel bodi hingga mekanisme pintu gunting khas Lamborghini yang menjadi ciri utama Aventador.
Di tengah panasnya cuaca Gunungkidul, Suharyanto tampak serius mengamati peredam kejut yang menopang pintu kiri mobil. Baginya, detail sekecil apa pun tak boleh diabaikan.
Pintu Gunting, Detail Kecil yang Krusial
Pintu model gunting atau scissor door menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proyek replika ini. Berbeda dengan pintu mobil biasa, pintu Lamborghini harus dapat terangkat sempurna, stabil di posisi atas, dan tetap aman bagi penumpang.
“Sepertinya shock-nya harus diganti dengan yang lebih bagus,” ujar Suharyanto kepada salah satu pegawainya sambil menunjuk peredam kejut pintu.
Bagi Suharyanto, fungsi dan keselamatan jauh lebih penting daripada sekadar tampilan. Ia memastikan pintu tidak turun tiba-tiba dan tidak membahayakan orang yang keluar-masuk mobil. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam setiap proyek yang dikerjakannya.
Bengkel Sederhana, Standar Tinggi
High Class Auto Custom mungkin tidak berada di kawasan industri otomotif besar. Lingkungan bengkel masih dikelilingi pepohonan jati, jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun, standar kerja yang diterapkan Suharyanto jauh dari kata sederhana.
Setiap panel bodi dibuat dengan pengukuran presisi. Garis desain Aventador yang tajam dan agresif menjadi tantangan tersendiri, terutama karena mobil ini bukan sekadar dimodifikasi, melainkan dibangun ulang sebagai replika.
Proses pengerjaan tidak instan. Suharyanto dan timnya harus bolak-balik menyesuaikan bentuk, memperbaiki sudut, dan memastikan proporsi mobil tetap mendekati desain aslinya.
Ketertarikan pada Supercar Sejak Lama
Ketertarikan Suharyanto terhadap mobil sport dan supercar bukanlah hal baru. Sejak lama, ia mengamati desain mobil-mobil eksotis dunia dan mempelajari karakter masing-masing.
Namun, Lamborghini Aventador memiliki daya tarik tersendiri. Desain futuristik, pintu gunting ikonik, serta aura eksklusif menjadikannya simbol mimpi bagi banyak pecinta otomotif.
“Banyak orang berpikir supercar itu hanya bisa dibuat di luar negeri. Saya ingin membuktikan, di desa pun kita bisa bikin karya yang serius,” ungkap Suharyanto dalam perbincangan santai di sela istirahat.
Proses Panjang dan Penuh Ketelitian
Membangun replika Lamborghini Aventador bukan perkara mudah. Tantangan datang dari berbagai sisi, mulai dari rangka, bodi, hingga ergonomi kabin.
Rangka kendaraan harus cukup kuat menopang bodi yang lebar dan rendah. Suspensi pun disesuaikan agar mobil tetap nyaman digunakan, meski tampil ceper dan agresif.
Di sisi interior, Suharyanto berupaya menghadirkan nuansa sporty yang sejalan dengan karakter Aventador. Tata letak dashboard, jok, dan konsol tengah dirancang agar pengemudi tetap merasa “masuk” ke dunia supercar, meski ini adalah replika.
Menjaga Keseimbangan Antara Realisme dan Fungsionalitas
Suharyanto menyadari bahwa replika tidak harus meniru 100 persen versi asli. Ada kompromi yang harus dilakukan, terutama agar mobil tetap bisa digunakan secara aman dan fungsional di jalanan Indonesia.
Karena itu, beberapa penyesuaian dilakukan pada sektor mesin dan kaki-kaki. Fokus utamanya bukan mengejar kecepatan ekstrem, melainkan menghadirkan sensasi visual dan pengalaman berkendara yang mendekati supercar, tanpa mengorbankan keandalan.
Kebanggaan Lokal dari Gunungkidul
Proyek replika Aventador ini bukan hanya soal mobil, tetapi juga tentang kebanggaan daerah. Dari Gunungkidul, sebuah wilayah yang lebih dikenal dengan wisata alam dan perbukitannya, lahir karya otomotif yang mengundang decak kagum.
Banyak orang yang datang ke bengkel hanya untuk melihat langsung progres pengerjaan mobil tersebut. Sebagian bahkan tak percaya bahwa replika supercar ini dibuat di lingkungan desa.
“Kalau kita tekun dan mau belajar, keterbatasan tempat bukan penghalang,” kata Suharyanto.
Istirahat Sejenak di Tengah Terik
Menjelang tengah hari, panas di dalam bengkel mulai terasa menyengat. Suharyanto mengajak pegawainya beristirahat sejenak. Di sela rehat, obrolan ringan tetap berkisar pada mobil, ide, dan rencana penyempurnaan berikutnya.
Baginya, membangun replika Lamborghini bukan sekadar pekerjaan, melainkan proses panjang yang dinikmati tahap demi tahap.
Bukan Sekadar Replika, Tapi Bukti Kemampuan
Replika Lamborghini Aventador dari Gunungkidul ini menjadi bukti bahwa kreativitas otomotif Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Dengan alat sederhana, ruang terbatas, dan ketekunan tinggi, Suharyanto dan timnya mampu menghadirkan karya yang membanggakan.
Mobil ini mungkin bukan Aventador asli bermesin V12 dari Italia. Namun, nilai di baliknya—ketekunan, keberanian bermimpi, dan keahlian lokal—membuatnya memiliki cerita yang jauh lebih mahal.
Penutup
Di bengkel kecil di Dusun Nogosari, mimpi besar tentang supercar terus dirakit. Replika Lamborghini Aventador karya Suharyanto bukan hanya kendaraan, tetapi simbol bahwa karya kelas dunia bisa lahir dari mana saja, termasuk dari sudut desa di Gunungkidul.
Selama pintu gunting masih diuji dan detail terus disempurnakan, satu hal sudah pasti: semangat berkarya Suharyanto tak kalah mewah dari mobil yang sedang ia bangun.
Baca Juga : Niat Beli Ayla, Guru Lombok Pulang Bawa Taft Guy
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : baliutama

