Penjualan kendaraan niaga di Indonesia sepanjang 202k1 menghadapi tantangan berat. Di saat segmen mobil pikap justru mencatatkan pertumbuhan positif, kondisi sebaliknya terjadi pada segmen truk. Permintaan kendaraan komersial berat mengalami penurunan signifikan, bahkan turun ribuan unit dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini menegaskan bahwa pemulihan industri otomotif nasional belum merata, terutama untuk sektor yang sangat bergantung pada aktivitas logistik, konstruksi, dan industri berat.
Berdasarkan data Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), penjualan ritel (retail sales) truk sepanjang 2025 tercatat sebanyak 59.303 unit. Angka tersebut hanya setara sekitar 7,1 persen dari total pasar mobil nasional. Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang mencapai 66.570 unit, terjadi penurunan sebesar 7.267 unit. Penurunan ini tergolong tajam, mengingat segmen truk selama ini dikenal relatif stabil karena menopang sektor-sektor vital perekonomian.
Segmen Truk Mulai Kehilangan Momentum
Turunnya penjualan truk menunjukkan adanya perlambatan aktivitas ekonomi tertentu, khususnya di sektor konstruksi dan pertambangan. Proyek infrastruktur yang sebelumnya menjadi motor penyerapan truk dalam jumlah besar mulai melambat. Di sisi lain, pelaku usaha juga cenderung menahan ekspansi armada akibat ketidakpastian ekonomi global dan tekanan biaya operasional yang masih tinggi.
Truk dengan Gross Vehicle Weight (GVW) 5–10 ton masih menjadi tulang punggung pasar. Sepanjang 2025, segmen ini berhasil mencatatkan penjualan 38.999 unit. Kendaraan di kelas ini banyak digunakan untuk distribusi barang jarak menengah dan kebutuhan logistik perkotaan hingga antarwilayah, sehingga permintaannya relatif lebih terjaga.
Namun, segmen di atasnya justru menunjukkan pelemahan yang cukup terasa. Truk GVW 10–24 ton hanya terjual 4.647 unit sepanjang tahun. Sementara itu, kendaraan dengan GVW lebih dari 24 ton tercatat terdistribusi sebanyak 15.657 unit. Angka ini masih jauh dari ekspektasi, terutama mengingat kebutuhan sektor tambang dan logistik skala besar yang semestinya menyerap lebih banyak unit.
Penjualan Bulanan yang Tidak Stabil
Jika ditarik ke pola penjualan bulanan, fluktuasi terlihat sangat jelas. Pada April 2025, misalnya, penjualan truk hanya mencapai 3.754 unit. Angka ini turun cukup tajam dibandingkan Maret yang masih mencatatkan 5.020 unit. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor musiman, penundaan proyek, hingga kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan investasi kendaraan baru.
Pergerakan mulai terlihat pada Agustus 2025, ketika penjualan naik menjadi 4.950 unit. Momentum ini berlanjut hingga akhir tahun, dengan puncak penjualan terjadi pada Desember yang mencapai 6.304 unit. Kenaikan di akhir tahun umumnya didorong oleh realisasi anggaran, kebutuhan logistik menjelang libur panjang, serta upaya perusahaan untuk memperbarui armada sebelum tutup buku.
Meski demikian, lonjakan di Desember belum cukup untuk menutup penurunan yang terjadi di bulan-bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, kinerja penjualan truk 2025 masih berada di bawah level ideal.
Wholesales Ikut Melemah
Kondisi serupa juga tercermin pada data wholesales atau distribusi dari pabrikan ke diler. Sepanjang 2025, wholesales truk tercatat sebanyak 56.754 unit. Angka ini turun cukup dalam dibandingkan 2024 yang mencapai 67.015 unit. Penurunan lebih dari 10 ribu unit ini mengindikasikan bahwa produsen pun menyesuaikan produksi dengan lemahnya permintaan pasar.
Bagi pabrikan, kondisi ini memaksa mereka untuk lebih selektif dalam mengatur suplai, mengendalikan stok, serta menekan biaya produksi. Strategi diskon dan program pembiayaan pun semakin agresif, meski hasilnya belum sepenuhnya mampu mendongkrak permintaan.
Gempuran Truk Cina Jadi Faktor Penting
Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam penurunan penjualan truk adalah semakin kuatnya penetrasi produk asal Cina. Truk-truk buatan Cina menawarkan harga yang lebih kompetitif, spesifikasi yang menarik di atas kertas, serta paket pembiayaan yang agresif. Hal ini membuat sebagian konsumen, terutama pelaku usaha kecil dan menengah, mulai melirik merek non-jepang yang sebelumnya mendominasi pasar.
Namun, kehadiran truk Cina juga memicu persaingan yang tidak mudah bagi merek-merek mapan. Di satu sisi, konsumen diuntungkan dengan lebih banyak pilihan dan harga yang relatif lebih terjangkau. Di sisi lain, persaingan harga yang ketat menekan margin pabrikan dan diler, sekaligus membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi.
Selain itu, masih ada keraguan di sebagian konsumen terkait daya tahan jangka panjang, jaringan purna jual, serta nilai jual kembali truk Cina. Faktor-faktor ini membuat adopsinya belum sepenuhnya masif, tetapi cukup untuk menggerus penjualan merek konvensional di segmen tertentu.
Tantangan Struktural di Pasar Truk
Penurunan penjualan truk 2025 juga mencerminkan tantangan struktural yang lebih luas. Kenaikan harga bahan bakar, biaya perawatan, serta regulasi emisi yang semakin ketat membuat biaya kepemilikan truk meningkat. Bagi pelaku usaha logistik, keputusan membeli truk baru kini harus dihitung lebih matang, dengan mempertimbangkan efisiensi jangka panjang.
Di sisi lain, tren digitalisasi logistik dan optimalisasi armada juga mengurangi kebutuhan penambahan unit baru. Banyak perusahaan memilih memaksimalkan armada yang ada dengan sistem manajemen logistik yang lebih efisien, ketimbang langsung menambah jumlah kendaraan.
Prospek Penjualan Truk ke Depan
Meski 2025 menjadi tahun yang berat, pelaku industri masih menyimpan optimisme untuk tahun-tahun berikutnya. Pemulihan ekonomi yang lebih merata, percepatan proyek infrastruktur, serta stabilitas harga komoditas diharapkan dapat kembali mendorong permintaan truk. Selain itu, adopsi teknologi ramah lingkungan seperti truk listrik dan berbahan bakar alternatif juga membuka peluang baru di segmen kendaraan komersial.
Namun, persaingan dengan produk Cina dipastikan akan semakin ketat. Pabrikan dituntut untuk tidak hanya mengandalkan reputasi, tetapi juga menawarkan inovasi, efisiensi biaya, serta layanan purna jual yang benar-benar relevan dengan kebutuhan konsumen Indonesia.
Penurunan sebagai Sinyal Evaluasi
Turunnya penjualan truk sepanjang 2025 bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal bagi industri untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Dari sisi kebijakan, dukungan terhadap sektor logistik dan industri berat menjadi kunci. Dari sisi produsen, adaptasi terhadap perubahan pasar dan preferensi konsumen menjadi keharusan.
Pada akhirnya, pasar truk Indonesia masih memiliki potensi besar seiring kebutuhan distribusi dan pembangunan yang terus berjalan. Tantangannya adalah bagaimana seluruh pemangku kepentingan mampu merespons dinamika pasar dengan strategi yang tepat, agar penurunan di 2025 dapat menjadi titik balik menuju pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.
Baca Juga : Mercedes Pamer Mobil Formula 1 Baru Jelang Musim 2026
Cek Juga Artikel Dari Platform : infowarkop

