Standar Baru Keselamatan Kendaraan Listrik
China kembali memperketat regulasi keselamatan kendaraan listrik. Pemerintah negara tersebut akan mewajibkan standar baru baterai kendaraan listrik (EV) dengan prinsip utama “tidak terbakar dan tidak meledak”. Aturan ini dijadwalkan mulai berlaku pada Juli 2026 dan akan menjadi salah satu standar keselamatan baterai paling ketat di dunia.
Kebijakan ini menandai perubahan besar dalam pendekatan China terhadap industri kendaraan listrik. Jika sebelumnya fokus utama berada pada percepatan adopsi EV dan penguatan industri baterai, kini perhatian mulai diarahkan secara serius pada aspek keselamatan pengguna dan risiko kebakaran.
Peran Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar
Standar baru tersebut disetujui oleh Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar atau SAMR. Pada akhir Desember, lembaga ini mengesahkan 294 standar nasional baru yang mencakup 13 bidang utama, mulai dari industri manufaktur, teknologi, hingga perlindungan konsumen.
Regulasi baterai EV menjadi salah satu sorotan utama dalam paket kebijakan tersebut. Pemerintah menilai bahwa meningkatnya jumlah kendaraan listrik di jalan raya harus diimbangi dengan standar keselamatan yang lebih tinggi, khususnya untuk mencegah risiko kebakaran dan ledakan baterai.
Tidak Terbakar dan Tidak Meledak
Dalam standar baru ini, baterai kendaraan listrik diwajibkan memenuhi persyaratan ketat agar tidak memicu kebakaran atau ledakan, bahkan dalam kondisi ekstrem. Artinya, sistem baterai harus mampu mencegah terjadinya thermal runaway, kondisi berbahaya yang sering menjadi penyebab utama kebakaran EV.
Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden kebakaran kendaraan listrik di berbagai negara telah menimbulkan kekhawatiran publik. Meski secara statistik EV tidak selalu lebih berbahaya dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, sifat kebakaran baterai yang sulit dipadamkan membuat risiko ini mendapat perhatian khusus dari regulator.
Jadwal Penerapan dan Masa Transisi
Standar keselamatan baterai EV ini akan berlaku untuk semua kendaraan listrik baru mulai Juli 2026. Artinya, setiap model EV yang diproduksi dan dijual setelah tanggal tersebut wajib sepenuhnya mematuhi persyaratan “tidak terbakar, tidak meledak”.
Sementara itu, model kendaraan listrik yang telah disetujui berdasarkan standar lama akan diberikan masa transisi hingga 1 Juli 2027. Dalam periode ini, produsen diharapkan melakukan penyesuaian desain dan teknologi agar seluruh lini produk mereka memenuhi regulasi terbaru.
Dampak bagi Industri Otomotif
Bagi industri otomotif, khususnya produsen kendaraan listrik dan baterai, aturan ini menuntut investasi besar dalam riset dan pengembangan. Produsen harus memastikan bahwa desain sel baterai, sistem pendinginan, manajemen energi, hingga material yang digunakan benar-benar memenuhi standar keselamatan baru.
Namun di sisi lain, regulasi ini juga dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat kepercayaan konsumen. Dengan standar keselamatan yang lebih tinggi, kendaraan listrik diharapkan semakin diterima luas oleh masyarakat, baik di China maupun pasar global.
Larangan Pegangan Pintu Tersembunyi
Menariknya, kebijakan keselamatan China tidak hanya menyasar baterai EV. Pemerintah juga melarang penggunaan pegangan pintu tersembunyi pada kendaraan dan mewajibkan adanya pembuka pintu mekanis, baik di bagian luar maupun dalam mobil.
Langkah ini diambil setelah terjadinya kecelakaan fatal di mana pintu kendaraan gagal terbuka akibat gangguan sistem kelistrikan. Dalam situasi darurat seperti kebakaran atau kecelakaan berat, akses cepat untuk keluar dari kendaraan menjadi faktor penentu keselamatan.
Dengan mewajibkan mekanisme manual, pemerintah China ingin memastikan bahwa kegagalan sistem listrik tidak menghalangi penumpang untuk menyelamatkan diri.
Upaya Menekan Risiko Kebakaran dan Korban Jiwa
Tujuan utama dari seluruh rangkaian kebijakan ini adalah mengurangi risiko kematian dan cedera akibat kebakaran kendaraan listrik. Seiring meningkatnya populasi EV, potensi risiko juga ikut bertambah jika tidak diantisipasi dengan regulasi yang memadai.
China tampak ingin mengambil posisi sebagai pemimpin global dalam standar keselamatan EV. Aturan yang ketat ini berpotensi menjadi acuan bagi negara lain, terutama mereka yang juga tengah mendorong transisi ke kendaraan listrik.
Implikasi Global bagi Pasar EV
Sebagai pasar kendaraan listrik terbesar di dunia, kebijakan China memiliki dampak global. Produsen internasional yang ingin menjual EV di China harus menyesuaikan produk mereka dengan standar baru ini. Secara tidak langsung, hal tersebut bisa mendorong peningkatan standar keselamatan EV secara global.
Bahkan, bukan tidak mungkin standar “tidak terbakar, tidak meledak” akan menjadi tolok ukur baru dalam industri otomotif dunia, seiring meningkatnya tuntutan keselamatan dari konsumen dan regulator.
Menuju Era EV yang Lebih Aman
Regulasi baru ini menunjukkan bahwa fase pertumbuhan cepat kendaraan listrik kini memasuki tahap pendewasaan. Fokus tidak lagi hanya pada jumlah produksi dan penjualan, tetapi juga pada kualitas dan keselamatan.
Dengan mewajibkan baterai EV yang tahan api dan anti meledak, serta memperbaiki aspek keselamatan dasar seperti akses pintu darurat, China mengirimkan pesan kuat bahwa teknologi hijau harus berjalan seiring dengan perlindungan nyawa manusia.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang lebih aman, andal, dan berkelanjutan, tidak hanya bagi konsumen di China, tetapi juga bagi masa depan industri otomotif global.
Baca Juga : Tesla Denda Penumpang Muntah di Layanan Robotaxi
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : pontianaknews

