Penjualan mobil listrik asal Tiongkok di Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren yang beragam. Di saat banyak merek Cina justru mencatat pertumbuhan signifikan, kondisi berbeda dialami oleh Neta Auto Indonesia. Sepanjang 2025, performa penjualan Neta justru mengalami penurunan tajam dan mencapai titik terendah menjelang akhir tahun.
Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa pada Desember 2025, penjualan retail Neta—yakni distribusi kendaraan dari diler ke konsumen—hanya mencapai dua unit. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa merek tersebut tengah menghadapi tantangan serius di pasar otomotif nasional, khususnya di segmen kendaraan listrik.
Tren Penurunan Sejak Pertengahan 2025
Penurunan penjualan Neta bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba. Jika ditelusuri lebih jauh, performa retail brand ini sudah mulai melemah sejak pertengahan tahun. Penjualan terus menurun sejak Juli 2025 dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan hingga akhir tahun.
Padahal, dari sisi portofolio produk, Neta tidak bisa dibilang kosong. Sepanjang 2025, mereka memasarkan dua model utama, yakni Neta V-II dan Neta X. Kedua kendaraan listrik ini bahkan telah dirakit secara lokal di Indonesia dengan memanfaatkan fasilitas produksi milik PT Handal Indonesia Motor (HIM).
Langkah perakitan lokal seharusnya menjadi nilai tambah, baik dari sisi harga maupun persepsi pasar. Namun dalam praktiknya, keunggulan tersebut belum mampu mengangkat penjualan secara signifikan.
Pengakuan Manajemen Neta
Manajemen Neta sendiri tidak menampik kondisi tersebut. Head of Marketing PT Neta Auto Indonesia, Irvan Mustafa, mengakui bahwa dari sisi retail, perusahaan memang mengalami penurunan penjualan sepanjang 2025.
“Betul dari sisi retail, kita mengalami penurunan penjualan,” ujar Irvan kepada media otomotif, menanggapi data Gaikindo pada pertengahan Januari 2026.
Meski demikian, Irvan menegaskan bahwa Neta tetap akan menjalankan bisnisnya di Indonesia dengan portofolio produk yang sama pada 2026. Hingga saat ini, belum ada rencana peluncuran model baru untuk pasar Tanah Air.
Persaingan Ketat Mobil Listrik Cina
Salah satu faktor utama yang diyakini memengaruhi performa Neta adalah semakin ketatnya persaingan di segmen mobil listrik. Sepanjang 2024–2025, pasar Indonesia dibanjiri berbagai merek kendaraan listrik asal Cina dengan strategi agresif, baik dari sisi harga, fitur, maupun promosi.
Beberapa merek menawarkan model baru hampir setiap tahun, dengan desain futuristik, teknologi baterai terkini, serta fitur yang semakin lengkap. Di tengah situasi tersebut, Neta yang hanya mengandalkan dua model cenderung terlihat stagnan di mata konsumen.
Selain itu, kesadaran merek (brand awareness) juga menjadi tantangan. Meski Neta sudah hadir lebih awal dibanding beberapa pemain baru, gaungnya di pasar ritel Indonesia masih kalah kuat dibanding rival-rival yang lebih gencar melakukan kampanye pemasaran.
Strategi Produk yang Terbatas
Keputusan Neta untuk tetap bertahan dengan portofolio produk yang sama pada 2026 juga memunculkan tanda tanya. Di satu sisi, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya efisiensi dan konsolidasi bisnis. Namun di sisi lain, pasar otomotif—terutama segmen EV—sangat dinamis dan menuntut inovasi cepat.
Konsumen mobil listrik umumnya cukup sensitif terhadap teknologi baru, jarak tempuh baterai, hingga fitur keselamatan dan konektivitas. Tanpa pembaruan signifikan, produk yang ada berpotensi kalah bersaing, meski harganya kompetitif.
Dampak terhadap Jaringan Diler
Penurunan penjualan retail tentu berdampak langsung pada jaringan diler. Dengan angka penjualan yang sangat rendah di akhir tahun, tantangan diler Neta tidak hanya soal penjualan unit, tetapi juga menjaga keberlangsungan layanan purnajual dan kepercayaan konsumen.
Dalam industri otomotif, kepercayaan pasar menjadi faktor krusial. Konsumen cenderung berhati-hati membeli kendaraan dari merek yang penjualannya melemah, karena khawatir terhadap ketersediaan suku cadang dan layanan jangka panjang.
Prospek Neta di 2026
Meski kondisi 2025 terbilang berat, peluang Neta untuk bangkit belum sepenuhnya tertutup. Pasar mobil listrik Indonesia masih berada dalam fase pertumbuhan, dengan dukungan regulasi dan insentif pemerintah yang relatif kondusif.
Namun, untuk bisa kembali bersaing, Neta tampaknya perlu melakukan evaluasi strategi secara menyeluruh. Mulai dari penguatan brand, penyesuaian harga, peningkatan layanan purnajual, hingga kemungkinan menghadirkan model baru yang lebih sesuai dengan selera pasar lokal.
Jika tidak ada perubahan signifikan, tekanan dari merek-merek Cina lain yang siap masuk Indonesia pada 2026 bisa semakin mempersempit ruang gerak Neta.
Kesimpulan
Penjualan Neta di Indonesia sepanjang 2025 menjadi catatan penting di tengah euforia pertumbuhan mobil listrik. Dengan retail sales yang anjlok hingga hanya dua unit di Desember, Neta menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan eksistensinya di pasar nasional.
Keputusan untuk tetap bertahan dengan portofolio produk yang sama pada 2026 menunjukkan sikap hati-hati, namun juga mengandung risiko di tengah persaingan yang kian agresif. Tahun 2026 akan menjadi periode krusial bagi Neta: apakah mampu berbenah dan bangkit, atau justru semakin tertinggal di pasar mobil listrik Indonesia yang semakin padat pemain.
Baca Juga : Harga Toyota Avanza Naik Awal 2026, Masih Layak Dibeli?
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabumi

