Uni Eropa tengah menyiapkan langkah strategis untuk menghadirkan mobil listrik yang lebih terjangkau bagi masyarakatnya. Rencana ini muncul sebagai respons atas melonjaknya harga mobil baru, termasuk mobil kecil, yang semakin sulit dijangkau oleh konsumen Eropa. Salah satu faktor utama mahalnya harga mobil adalah kewajiban perlengkapan keselamatan yang harus dipenuhi produsen agar kendaraan dapat dijual secara legal di wilayah Uni Eropa.
Melalui kebijakan baru ini, Uni Eropa ingin menciptakan kelas kendaraan listrik khusus untuk penggunaan perkotaan. Kelas ini dirancang agar lebih sederhana, lebih murah, namun tetap memenuhi standar keselamatan dasar. Langkah tersebut sekaligus ditujukan untuk memperkuat daya saing produsen otomotif Eropa menghadapi gempuran mobil listrik murah asal Cina.
City Car Terlalu Mahal bagi Konsumen Eropa
Dalam beberapa tahun terakhir, harga mobil baru di Eropa mengalami kenaikan signifikan. Bahkan mobil kecil yang sebelumnya dikenal terjangkau kini dibanderol dengan harga yang tidak lagi ramah bagi pembeli pertama atau masyarakat urban berpenghasilan menengah.
Salah satu penyebab utamanya adalah regulasi keselamatan yang semakin ketat. Mobil baru di Uni Eropa diwajibkan memiliki berbagai sistem bantuan pengemudi seperti pengereman darurat otomatis, pemantauan kelelahan pengemudi, hingga sistem penjaga jalur. Meski meningkatkan keselamatan, fitur-fitur tersebut juga menambah biaya produksi secara signifikan.
Kondisi ini mendorong Uni Eropa untuk mengevaluasi kembali pendekatan regulasinya, khususnya bagi mobil perkotaan yang digunakan pada kecepatan rendah dan jarak tempuh pendek.
Kelas Kendaraan Baru Mirip Kei Car Jepang
Proposal yang tengah dibahas Uni Eropa akan menciptakan kategori kendaraan listrik baru yang sering disebut sebagai “E-car”. Konsepnya mirip dengan kei car di Jepang, yakni kendaraan berukuran kecil dengan batasan tertentu pada dimensi dan tenaga.
Seperti kei car, E-car kemungkinan akan memiliki pembatasan ukuran bodi, bobot, serta tenaga maksimal. Dengan pembatasan ini, kendaraan tidak diwajibkan mengusung seluruh sistem keselamatan aktif yang berlaku pada mobil konvensional.
Langkah ini diharapkan mampu memangkas biaya produksi sehingga harga jual mobil listrik perkotaan bisa ditekan hingga 10–20 persen lebih murah dibandingkan model yang ada saat ini.
Tetap Lebih Aman dari Kendaraan Mikro
Meski akan memiliki lebih sedikit fitur keselamatan aktif, Uni Eropa menegaskan bahwa E-car tetap harus melalui uji tabrak resmi. Kendaraan dalam kategori ini tetap diwajibkan memiliki struktur bodi yang kuat dan perlindungan penumpang yang memadai.
Dengan demikian, mobil E-car akan jauh lebih aman dibandingkan kendaraan mikro seperti Citroen Ami atau quadricycle lain yang banyak beredar, termasuk produk dari Cina, yang tidak diwajibkan menjalani uji tabrak seketat mobil biasa.
Uni Eropa berupaya menjaga keseimbangan antara keselamatan dan keterjangkauan, tanpa mengorbankan perlindungan dasar bagi pengemudi dan penumpang.
Target Harga di Bawah €15.000
Salah satu target utama dari regulasi ini adalah menghadirkan mobil listrik dengan harga di bawah €15.000 sebelum insentif. Angka tersebut dinilai sebagai batas psikologis penting agar mobil listrik dapat diakses lebih luas oleh masyarakat Eropa.
Beberapa model yang sudah ada, seperti Renault 5 E-Tech atau Twingo listrik generasi terbaru, disebut-sebut berpotensi mendekati kriteria E-car. Namun, kemungkinan besar ukuran dan spesifikasinya masih terlalu besar untuk memenuhi syarat kategori baru tersebut.
Sebaliknya, konsep seperti Dacia Hipster dianggap lebih mendekati formula ideal. Mobil konsep ini memiliki panjang sekitar 3 meter, bobot hanya 800 kg, kecepatan maksimum 90 km/jam, dan tetap mampu menampung empat penumpang dengan nyaman.
Tantangan Menurunkan Harga Secara Signifikan
Meski terdengar menjanjikan, sejumlah analis menilai bahwa menghilangkan beberapa sistem elektronik saja belum tentu cukup untuk menurunkan harga hingga 20 persen. Biaya baterai, platform kendaraan, serta proses produksi tetap menjadi komponen mahal dalam mobil listrik.
Oleh karena itu, ada kemungkinan produsen harus mengembangkan model baru secara khusus untuk kategori E-car, bukan sekadar memodifikasi model yang sudah ada. Hal ini membutuhkan investasi tambahan, meski dalam jangka panjang bisa menciptakan segmen pasar baru yang besar.
Tujuan Strategis Melawan Produsen Cina
Di balik kebijakan ini, terdapat tujuan geopolitik dan ekonomi yang jelas. Uni Eropa ingin melindungi produsen otomotif lokal dari dominasi mobil listrik Cina yang semakin agresif memasuki pasar Eropa.
Produsen seperti BYD telah membuktikan mampu menjual mobil listrik dengan harga kompetitif, bahkan setelah dikenai tarif impor tinggi. Model seperti BYD Seagull atau Dolphin Surf berpotensi semakin murah jika regulasi E-car diberlakukan.
Ironisnya, aturan baru ini juga bisa dimanfaatkan oleh produsen Cina. Tidak ada larangan bagi mereka untuk memproduksi kendaraan yang sesuai dengan kategori E-car. Bahkan, BYD tercatat sebagai produsen non-Jepang pertama yang berhasil mengembangkan kei car, sehingga pengalaman mereka dalam segmen kendaraan kecil sudah tidak diragukan.
Potensi Masuknya Kei Car Jepang ke Eropa
Selain produsen Cina, regulasi E-car juga membuka peluang bagi pabrikan Jepang untuk membawa kei car mereka ke pasar Eropa. Jika hal ini terjadi, persaingan di segmen mobil listrik murah akan semakin ketat.
Kei car dikenal efisien, ringkas, dan terjangkau, sangat cocok untuk kebutuhan perkotaan. Kehadiran mereka di Eropa bisa menjadi tantangan serius bagi produsen lokal, tetapi juga memberi konsumen lebih banyak pilihan.
Masa Depan Mobil Listrik Perkotaan di Eropa
Rencana Uni Eropa ini menunjukkan perubahan pendekatan dalam mendorong adopsi kendaraan listrik. Alih-alih hanya mengandalkan insentif, regulator mulai menyederhanakan aturan untuk menciptakan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Jika berhasil, E-car bisa menjadi solusi mobilitas perkotaan yang terjangkau, efisien, dan cukup aman. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga daya saing produsen lokal tanpa memberi celah lebih besar bagi dominasi pemain asing.
Keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada detail regulasi yang ditetapkan serta respons industri otomotif dalam mengembangkan kendaraan yang benar-benar relevan bagi konsumen Eropa.
Baca Juga : Driving Experience BAIC BJ30 SUV Hybrid Nyaman Harian
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarjawa

